MY Precious Holiday



It was Thursday evening. We were ready to have a journey to Bali island. There were 4 buses, full of students. Every bus had 5 teachers as the coordinators to take care of students.
We left Jember around 8 p.m. The buses moved slowly to Ketapang harbour. We arrived there around 1 a.m. After that, we set out to Bali Island by ferry.
We arrived in Gilimanuk harbour an hour later. The journey was continued to Tabanan. We reached Tabanan at 6 a.m. The teachers and students had a chance to pray Subuh.

On the first day in Bali, we had breakfast and took a bath in Kertalangu. After that we went shopping in Cahayu and Sukawati. We prayed Jum’at at Puja Mandala where there are 5 religious places laid there. There are a mosque, a church, a monastery, and a shrine that are built in one area. Then we continued our tour to Tanjung Benoa and Garuda Wisnu Kencana (GWK). We watched Kecak dance. We were happy to watch them dancing powerfully live.

The second day we spend the morning at Sanur Beach. We planned to enjoy sunrise. But, unfortunately the cloud blocked the sun. So we couldn’t see the sunrise. We left Sanur and dropped in Joger. Joger is a place that we can some famous souvenir. Then we continued to Bedugul to enjoy Beratan Lake. After that we spent the whole afternoon in Tanah Lot. But once more we were disappointed. The cloud hindered the sun, so we couldn’t see the sunset.

Finally, our tour finished. We went back to Jember on Saturday night. We were very tired, but we were still happy enough because we enjoy Bali island without any disturbance.
It was Friday night around 11, All teachers of SMPN Sukorambi and I were in front of Al-Huda Mosque, waiting a bus taking us to Jakarta. The bus finally came at 12 p.m. We all are happy and got into the bus. After praying together, the bus moved and left for Jakarta. Saturday morning, the bus stopped. We had breakfast in a restaurant in Tuban, East Java. I thought the food isn't delicious. But, I had to eat it rather than starving. We arrived in Jakarta on Sunday morning. It was nice weather. The first place we enjoyed was Istiqlal Mosque. We took a bath and had breakfast there. We also took a walk around the biggest mosque in South East Asia. After that we went to National Monument. We enjoyed the history of Indonesian struggle. The history was interesting because it was visualized by miniatur based on the true situation in the past. We didn't reach the top of monument because there was a long queue blocking us to the lift. We decided to go to the next tourism object. The next object we enjoyed was TMII. TMII is a park where we can play and enjoy the panorama of Indonesian culture. There was a miniatur of Indonesian archipelago. The miniatur could be observed by taking a flying cart. When the sun began to set, we left TMII to our holiday inn. How happy we were after 2 days we slept in a bus, then we could sleep on a bed again. Monday morning we left for Ancol Beach. We enjoyed Sea World. We felt fun with the world under the sea. There were various fish in a large aquarium. That was the last day we enjoyed Jakarta. That was fun and unforgetable moment. Then, we continued our journey to Bandung.

Read more at: http://www.sekolahoke.com/2012/12/Cerita.Liburan.Jakarta.English.Indonesia.html
Copyright Sekolahoke.com - Belajar Bahasa Inggris Online di sekolahoke.com yuk! Klik aja http://www.sekolahoke.com/ Under Common Share Alike Atribution

My Typical Day

I am a Employees and Students, so my daily routine is very similar most of days in the year.During the working part of the week I use to get up at about  five o’clock.First I am doing Fajr Pray then take a bath.After that I am prepared all the things I need in the office. I don’t eat very much in the morning I have a light breakfast, some tea, doughnuts, bread or toast I usually go to work by public transportation such as train and bus. It takes me about 45 minutes.
            I am working in Kelurahan Cawang.I work 8 hours in a day starting from 8:00.a.m. until 4:00.p.m. My job descriptions are Community Services, I make a licensing letter such as SKCK, Birth Certificates,etc. At 12.00 am I offer take a lunch with my friend in AW(Aneka Warteg) then take a Zuhur Prayer then back to work again.
            I finish work at four and go to college for studying but before that I always taking the time for Asr prayer. From my office to my college it takes 75 minutes.I am studying in faculty of accountancy at Gunadarma University in Depok. I am usually arrive in my college at 5.30 am and go to mosque to take a break and sleep until magrib time come. After doing Magrib Pray, I go to class and study  .
I finish the class at 20.30 pm – 21.00 pm, I go home by bus and arrive at 21.30. I immediately clean my body and change clothes then doing Isha Prayer then sleep.
On weekdays if I don’t have a course schedule I usually get up 7 o’clock then helping my mom clean the house.Then watching TV or browsing internet. Sometimes I go out with my boyfriend but if I I have a lo of course schedule we usually meet on Sunday. I really appreciate my holiday, sometimes I spend my day off to hang out with my family and sharing.
Sometimes I feel tired through the day as an employee and a student, but I have people who have always supported me. I have a great mother,I have friends who are fun although a little crazy, I have a brother who always makes me smile though sometimes annoying, I have a boyfriend who can always encouraging, I had a father who always care and watch from heaven and I have a great God who always protects and accompanies wherever I am.

Kalimat Efektif dan Kalimat Tidak Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di maksud penulis /pembicara. Kalimat efektif juga merupakan kalimat yang padat, singkat, jelas, lengkap, dan dapat menyampaikan informasi secara tepat.
Jelas : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.
Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.
Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.
Berikut ini 13 Sebab Ketidakefektifan Kalimat :
1. Kalimat Berstruktur Kompak.
Setiap kalimat minimal terdiri atas unsur pokok dan sebutan (yang menerangkan pokok) atau unsur subjek dan predikat. Kalimat yang baik adalah kalimat yang menggunakan subjek dan predikat secara benar dan kompak. Kekurangkompakan dan ketidakjelasan subjek dapat terjadi jika digunakan kata depan di depan subjek. Misalnya penggunaan dalam, untuk, bagi, di, pada, sebagai, tentang, dan, karena sebelum subjek kalimat tersebut.
Contoh kalimat tidak efektif:
Bagi semua siswa harus memahami uraian berikut ini.
Dalam pembahasan ini menyajikan contoh nyata.
Sebagai contoh dari uraian di atas adalah perkalian di bawah ini.
Kalimat di atas menjadi tidak efektif karena unsurnya tidak lengkap.
2. Kalimat Paralel.
Kalimat yang efektif adalah kalimat yang tersusun secara paralel. Keparalelan itu tampak pada jenis kata yang digunakan sebagai suatu yang paralel dengan memiliki unsur atau jenis kata yang sama. Kesalahan dalam menggunakan paralelis kata akan menjadikan kalimat tersebut menjadi tidak efektif.
Contoh kalimat tidak efektif:
Kegiatan akhir dari percobaan itu adalah menyusun laporan, kelengkapan materi yang harus dilampirkan, penggambaran tahap-tahap kegiatan, dan simpulan hasil pengujian.
Ketidakefektifan kalimat tersebut, karena memfaralelkan jenis kata menyusun, dengan kelengkapan, penggambaran, dan simpulan. Kalimat tersebut memfaralelkan “kegiatan” sebagai verba, maka kata lainnya seharusnya menggunakan verba. Misalnya, kata menyusun seharusnya berfaralel dengan melampirkan (materi secara lengkap), menggambarkan (tahap-tahap kegiatan), dan menyimpulkan (hasil pengujian). Bandingkanlah dengan kalimat di bawah ini!
Kegiatan akhir dari percobaan itu adalah menyusun laporan, melampirkan materi secara lengkap, menggambarkan tahap-tahap kegiatan, dan menyimpulkan hasil pengujian.
3. Kalimat Hemat.
Kalimat yang efektif harus hemat. Kalimat hemat memiliki ciri kalimat yang menghindari pengulangan subjek, pleonasme, hiponimi, dan penjamakan kata yang sudah bermakna jamak.
Contoh kalimat tidak efektif:
Para menteri serentak berdiri, setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang ke acara itu.
Waktu tempuh yang digunakan hanya selama 45 menit saja untuk sampai ke daerah itu.
Air raksa ini harus dicampur dengan kain warna merah.
Banyak orang-orang yang tidak hadir pada pertemuan yang menghadirkan beberapa tokoh-tokoh terkemuka.
Kalimat pertama kurang efektif karena menggunakan subjek (kata para menteri) dengan subjek kedua (kata mereka). Kalimat kedua menggunakan kata bermakna sama, yaitu kata hanya dan saja. Kalimat ketiga kurang efektif karena menggunakan kata bermakna hiponimi, yaitu kata warna dan merah (merah merupakan salah satu warna, sehingga tidak perlu menggunakan kata warna). Kalimat keempat, menggunakan kata bermakna jamak secara berulang, yaitu kata banyak dan beberapa dengan pengulangan kata yang mengikutinya.
4. Kalimat Berpadu.
Kalimat yang berpadu adalah kalimat yang berisi kepaduan pernyataan. Kalimat yang tidak berpadu biasanya terjadi karena salah dalam menggunakan verba (kata kerja) atau preposisi (kata depan) secara tidak tepat.
Contoh kalimat tidak efektif:
Segala usulan yang disampaikan itu kami akan pertimbangkan.
Uraian pada bagian ini akan menyajikan tentang perkembangbiakan pohon aren.
Materi yang sudah diungkapkan daripada pembicara awal akan dibahas kembali pada pertemuan yang akan datang.
Penggunaan kata akan yang menyelip di antara subjek dengan predikat pada kalimat pertama menjadikan kalimat tersebut kurang padu. Demikian pula penggunaan kata tentang dan daripada setelah verba menjadikan kalimat tersebut kurang padu
5. Kalimat Logis.
Kalimat yang logis adalah kalimat yang dapat diterima oleh akal atau pikiran sehat. Biasanya ketidaklogisan kalimat terjadi karena pemilihan kata atau ejaan yang salah.
Contoh kalimat tidak efektif:
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran acara ini.
Untuk mempersingkat waktu, marilah kita bersama-sama mulai mengerjakan tugas tersebut.
Mayat wanita yang ditemukan di sungai itu sebelumnya sering mondar- mandir di daerah tersebut.
Pada kalimat pertama terkadung makna bahwa yang berbahagia adalah kesempatan, kecuali verbanya diganti dengan membahagiakan. Kalimat kedua memiliki makna yang tidak mungkin waktu dipersingkat, kecuali acara yang dipersingkat atau waktu yang dihemat. Kalimat ketiga menggunakan konstruksi kalimat yang kurang benar sehingga memunculkan makna yang kurang logis dan menakutkan.
6. Kontaminasi ==> merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah
Contoh :
* diperlebar, dilebarkan diperlebarkan (salah)
* memperkuat, menguatkan memperkuatkan (salah)
* sangat baik, baik sekali sangat baik sekali (salah)
* saling memukul, pukul-memukul saling pukul-memukul (salah)
* Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni Sekolah mengadakan pentas seni (salah)
7. Pleonasme ==> berlebihan, tumpang tindih
Contoh :
* para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
* para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
* banyak siswa-siswa (banyak siswa)
* saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
* agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
* disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)
8. Tidak Memiliki Subjek.
Contoh :
* Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
* Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
* Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)
9. Adanya kata depan tidak perlu.
Contoh :
* Perkembangan daripada teknologi informasi sangat pesat.
* Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
* Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.
10. Salah Nalar.
Contoh :
* waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
* Mobil Pak Dapit mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
* Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
* Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
* Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
* Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
* Bola gagal masuk gawang. (Ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa)
11. Kesalahan Pembentukan kata.
Contoh :
* mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
* menyetop seharusnya menstop
* mensoal seharusnya menyoal
* ilmiawan seharusnya ilmuwan
* sejarawan seharusnya ahli sejarah
12. Pengaruh bahasa asing.
Contoh :
* Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat)
* Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
* Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)
13. Pengaruh bahasa daerah.
Contoh :
* … sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
* … oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
* Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)
Daftar Pustaka
Baynham, Mike. (1995) Literacy Practices: Investigating Literacy in Social Contexts. London: Longman.
Keraf, Gorys (1983) Komposisi. Jakarta: Gramedia.
Rusyana, Yus (1984) Bahasa & Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: CV Diponegoro.

Asuransi = Menabung

Asuransi adalah cara lain untuk menabung. 10 tahun yang lalu, penjual asuransi akan datang kepada Anda untuk memberi tawaran asuransi plus, plus tabungan. Premi bisa dibayar bulanan, lewat debit rekening, atau per triwulan atau per tahun, suka-suka. Besar bunga tabungan diclaim 2% lebih tinggi dari bunga tabungan biasa. Lalu ada deretan angka-angka yang wah sekali, dan selalu Anda akan dituntun untuk melongok angka yang paling besar, di baris 20 tahun kemudian, dan Anda merasa wah nyaman juga dapat uang segitu gede. Namanya bisa tabungan, bisa dana pendidikan, bisa dana pensiun. Prinsipnya ada bagian yang akan ditabung dan dalam periode tertentu bisa diambil.
Lima tahun kemudian, cara ini kurang laku lagi, dan perusahaan asuransi mengemas produknya dengan cara yang lebih menggiurkan. Bukan lagi tabungan, dana pendidikan, atau dana pensiun tapi investasi. Dengan return yang lebih besar karena menaruh uang Anda tidak lagi di instrumen tabungan yang bunganya kecil mungil. Anda sudah taruh uang Anda di ekuiti, saham, yang bisa memberikan 20% atau 40% return per tahunnya. Kalau sekarang harga saham kedodoran, ya sebetulnya tidak masalah juga, namanya juga risiko. Mau untungnya masa tidak bisa terima ruginya.
Asuransi model unit link ini jauh lebih hebat ditawarkannya. Dengan return lebih tinggi, pastilah angka yang tercetak di proposal jauh lebih besar dari sekadar tabungan. Wah, apalagi kalau ditunjuk angka pada waktu umur Anda 70 tahun, alamak, luar biasa.Terlepas dari ketidaksetujuan saya tentang cara menjual asuransi semacam itu toh berapa banyak sih yang akan memperhitungkan nilai tunai dari angka yang luar biasa itu saya menganggap bahwa asuransi plus memiliki kelebihan dalam mendisiplinkan diri kita untuk menabung.
Andaikata jumlah yang ditabung itu hanya memberikan return sedikit lebih tinggi dari besar inflasi tahunan kita, asuransi plus sudah cukup dijadikan sebagai alat menabung. Hal yang kita perlu sadari adalah apa yang kita bayarkan tiap bulan, triwulan, atau tiap tahun itu tidak semuanya masuk ke instrumen tabungan.
Sebagian masuk sebagai premi asuransi yang pengembaliannya bakal ada kalau Anda sudah tidak ada. Jadi, Anda mesti rela hati membiarkan orang lain menikmati apa yang Anda bayarkan rutin sekarang ini. Ini pun dengan batasan, bisa batasan umur 70 tahun misalnya, atau batasan kontrak.
Tetapi minimal, kalau nasabah atau pemegang polls meninggal dunia pada kurun waktu tersebut, dan dia masih punya utang yang mesti dilunasi, tidak perlulah dia mewariskan utang kepada anak-anaknya.
Di luar itu, Anda punya instrumen tabungan yang mau tidak mau mesti Anda bayar terus, kalau Anda tidak mau kehilangan seluruh uang Anda. Lebih repot memang. Tapi boleh menjadi pilihan kalau Anda mampu mengampu seluruh biaya dan beban yang rutin harus dibayarkan.

Biaya Produksi

Untuk menjalankan produksi diperlukan tenaga kerja, bahan-bahan dasar, alat-alat dan mesin, bahan bakar, dan sebagainya, yaitu sumber-sumber daya ekonomi atau faktor-faktor produksi. Untuk menentukan harga jual produk serta untuk dapat menentukan apakah suatu usaha itu rendabel, semua biaya produksi harus diperhitungkan dengan seteliti mungkin. Perhitungan semua biaya yang perlu dikeluarkan untuk menghasilkan suaru barang/jasa sampai barang tersebut terjual disebut “kalkulasi harga pokok“.
Pengertian Biaya
Dalam ilmu ekonomi biaya diartikan, semua pengorbanan yang perlu untuk suatu proses produksi, dinyatakan dalam uang menurut harga pasar yang berlaku. Dalam definisi ini ada empat unsur yang perlu diperhatikan:
a. Pengorbanan
Pengorbanan yang sesungguhnya adalah pemakaian faktor-faktor produksi atau sumber-sumber ekonomis bahan-bahan yang harus dipakai, waktu dan tenaga yang dicurahkan, peralatan dan mesin yang terpakai, upah karyawan yang harus dibayar, dan sebagainya.
Masalah pertama yang dihadapi oleh produsen adalah menentukan berapa jumlah pengorbanan tersebut. Untuk itu semua pengorbanan harus diukur dengan teliti (dikuantitatifkan): berapa kg bahan yang habis terpakai, berapa jam kerja yang telah dicurahkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, berapa jam mesin yang diperlukan untuk pembuatan suatu barang, dan sebagainya.
b. Pengorbanan yang perlu untuk produksi
Yang dihitung sebagai biaya hanyalah pengorbanan yang perlu saja, artinya yang tidak dapat dihindarkan. Jadi, pemborosan bahan atau waktu yang sebenarnya tidak perlu itu seharusnya tidak ikut dihitung sebagai biaya.
c. Dinilai dalam
Semua biaya produksi dinilai dalam uang. Pengeluaran yang memang harus dibayar dengan uang, seperti harga beli bahan-bahan atau gaji pegawai, sudah dengan sendirinya termasuk perhitungan biaya. Tetapi dapat tejadi bahwa ada hal-hal yang sebenrnya termasuk biaya produksi — tetapi tidak dibayar dengan uang. Misalnya, tenaga sendiri atau bahan-bahan yang diambil dari kebun sendiri. Karena tidak menyangkut pengeluaran uang, maka kerap kali juga tidak dihitung sebagai biaya. Padahal sebenarnya tenaga sendiri dan bahan-bahan itu juga harus ikut diperhitungkan sebagai biaya, meskipun tidak berupa pengeluaran uang.
Contoh lain adalah penyusutan gedung dan alat-alat produksi, yang betul-betul termasuk biaya, biar pun tidak ada satu sen pun dikeluarkan untuk itu. Biaya seperti itu, yang secara ekonomis harus dihitung sebagai biaya produksi tetapi bukan merupakan pengeluaran uang, sering juga disebut biaya implisit.
Bagaimana caranya pengorbanan atau biaya yang tidak menyangkut pengeluaran uangmmhamuadiperhituntglnan?Biaya-biaya tenanbundinilaidalamuaag,yammdiaannakan dengan harga yang umum berlaku dalam masyarakat untuk hal-hal seperti itu. Misalnya, harga pasar untuk basil kebun sendiri, untuk upah tarif yang bertaku umum, dan seterusnya. Cara ini dalam ilmu ekonomi disebut biaya alternadf (alternative cost atau opportunity cost).”
d. Menurut barna pasar yang berlaku
Kalau biaya harus dinilai dalam uang, nilai atau harga yang manakah yang harus dipakai? Di atas sudah disinggung bahwa yang dipakai adalah harga pasar yang berlaku.
Banyak orang memperhitungkan nilai bahan atau barang sama dengan harga yang dulu telah dibayar untuk membeli barang/bahan tersebut atau disebut “harga perolehan“. Tetapi berapa yang dulu dibayar untuk membeli suatu barang itu sebenarnya tidak penting lagi. Apalagi dalam masa kenaikan harga umum (inflasi). Agar suatu usaha bisa berjalan tarus (agar kontinuitas usaha terjamin), yang lebih panting adalah berapa harga yang harus dibayar sekarang kalau membeli barang yang sama lagi. Jadi yang dipakai sebagai pedoman untuk penentuan besarnya biaya dalam kalkulasi harga pokok adalah harga pasar yang berlaku sekarang (=pada saat penjualan) meskipun dahulu mungkin dibeli dengan harga yang lebih rendah atau lebih mahal.
(Sumber:berbagai website dan blog)